''Hebat.. Ada Bakul Cilok Berpenghasilan Manager''
ALIAN - Rubiyono (55) dan istrinya Siti Suriah (48), bukanlah seorang bos, bukan pula seorang juragan besar. Mereka adalah penjual Cilok. Namun penghasilan mereka tak boleh dianggap remeh. Dan ‘karir’ sebagai pedagang kuliner kecil ternyata menuai kesuksesan yang memberikan kebahagian dalam kehidupan mereka. Namun hal itu tidak didapat semudah membalik telapak tangan. Lantas bagaimana kisahnya??
"Hidup selalu banyak tantangan," ucap Rubiyono mengawali perjumpaan dengan mediaobsesi.com di Rumah Tinggalnya di Penajung, Bojongsari, Kec. Alian Kab. Kebumen (23/01) lalu. Ia lanjut menceritakan kisah hidup bersama Istrinya Siti Suriah
Pada 1987, Rubiyono dan Siti Suriah mengawali kebersamaan mereka dengan Tinggal dan bekerja di Jakarta, sebagai Teknisi listrik, rekanan PLN, namun setelah mengalami krisis, ia mencoba menyambung hidup dengan bejualan kaki lima, apapun sudah mereka lakoni. Dari semangkuk mie rebus hingga berporsi-porsi nasi goreng pernah mereka jual.
Tak hanya sebatas itu perjuangan mereka, liku-liku hidup terus saja menghantui, seakan tak bosan mengganggu. Lagi-lagi cobaan menghampiri keduanya, dengan banyaknya persaingan dagang serta kejamnya metropolitan, pada tahun 2000 mereka pun memutuskan untuk berpulang ke kampung halaman, tepatnya di kebumen.
"yah...kepripun malih..enak mboten enak, luwih kepenak urip nang daerah" ucap rubiyono.
Dengan 4 orang anak yang tergolong masih kecil-kecil, beban hidup sangat terasa dengan adanya kondisi yang demikian kejam, namun tekad berjuang dikampung sudah bulat, dan tidak sedikitpun menggoyahkan keputusan mereka, walau dalam
Angan-angan masih tersirat pertanyaan "apa sing arep tek kerjani ya?"
Setelah pindah ke kebumen, Rubiyono beserta istri terpaksa harus nunut dirumah mertua, karena memang belum ada tanah pribadi untuk mereka tinggali, dengan segera mereka juga mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah baru, anak pertama dan kedua dibangku SMP, yang ke tiga masih dibangku SD, serta si bungsu yang masih TK.
Disini terlihat bahwa, betapa pentingnya Pendidikan bagi keduanya, bahkan tanpa isi dikantongpun mereka tanamkan dalam hati bahwa "Harus sanggup membiayai anak sekolah hingga minimal SMA".
Rubiyono yang memiliki segudang kreatifitas, tak kurang akal, ia pun beraksi dengan seng dan kawatnya hingga diciptakannya kompor-kompor bersumbu yang kemudian ia pasarkan. Namun siapa sangka? Ternyata laris manis, pesananpun kian berantrian.
Rejeki memanglah hanya sebatas waktu, dengan adanya ketetapan berkompor gas dari negara, nyali rubiyono pun sedikit menciut, karna boleh dikata, musibah kebangkrutan akan segera menghampirinya.
Dan sebagai istri yang berhasrat ingin sedikit meringankan beban suaminya, Suriah (sang istri) menjajal beradu nasib dengan berjualan brambang/bawang merah, namun akhirnya berujung gagal, di lanjut lagi berjualan mainan anak, namun kembali gagal.
Tak sedikitpun asa yang putus dari benaknya. Diwarisi keturunan penjual bakso, keduanya mencoba untuk meramu resep bakso menjadi Cilok "bakso tanpa kuah", berawal dari bertanya-tanya tempat penggilingan daging, hingga meminjam modal dari BKK senilai 300.000, mereka memberanikan diri membuka lapak berjualan cilok di pasar seruni tepatnya di kecamatan alian.
Sapa nyana? Cilok yang pada umumnya digemari oleh anak kecil namun kali ini cilok ibu suriah peminatnya tak lain adalah orang dewasa, bahkan mereka berbondong-bondong dari daerah pegunungan, hanya untuk menikmati seplastik cilok.
Siti Suriah sedang melayani pembeli di lapak kecilnya
Diakui si penjual, bahwa langganannya tak jarang datang dari daerah yang jauh, seperti halnya poncowarno, plumbon, bahkan kutowinangun (red-nama kecamatan di Kebumen). Hal ini sangat menakjubkan, sampai-sampai banyak pedagang lain yang syirik dan beranggapan si penjual cilok pakai dukun."hehehe...dukune ya awake dewek" , dengan santai rubiyono menanggapi celaan tersebut.
Hal ini tak membuat pelangganya kabur karena memang terbukti dari keaslian dan rasa cilok yang khas dan kenyal. Hanya "Joss, Mantap!" yang tersimpan dilidah. Karena mediaobsesi.com sudah membuktikannya.
Beralih pada proses pembuatanya, Cilok Bu Suriah ini tidak membutuhkan kerumitan dan waktu yang terlalu lama, sekitar 3 jam setelah proses penggilingan cilok sudah siap dipasarkan. Mudah bukan? Selain itu, yang lebih menarik "5kg" menjadi target ludes habis terjual setiap harinya, terlebih waktu bulan ramadhan datang. Bahan baku yang tak kurang dari "7kg" pasti habis dalam waktu 3 jam "amazzing".
Hehee...yang tak kalah uniknya...cilok ini sudah sampai ke jakarta, lampung bahkan malaysia...karena waktu lebaran tiba, pemudik yang datang dari berbagai penjuru memesan cilok ini untuk dibawa ke tempat kerjanya.
Tak kalah pentingnya, disini mediaobsesi akan menunjukan sedikit banyak tentang hasil yang dicapai dengan jerih payah berjualan cilok."bukan pamer atau sekedar omong kosong" namun pesan motivasilah yang dapat kita serap.
Ternyata dengan bola-bola ciloknya rubiyono dan suriyah mampu menyelesaikan sekolah keempat anaknya dengan rata-rata lulusan SMA, bahkan anak sulungnya juga mencicipi bangku kuliah dibidang keperawatan.
Tak hanya itu, rumah pun yang semula bertembokan kayu dan seng kali ini di sulap menjadi rumah minimalis yang berlantaikan keramik serta berkendaraan 3 sepeda motor.
Nah, .. bagi pembaca yang budiman, petiklah makna dan arti dari sebuah kisah realita hidup seseorang ambil hikmahnya dan serap motivasinya, terus berkarya dan jangan lupa "pantang menyerah". (Sumber: mediaobsesi.com/Sc)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar