Assalamualaikum..
Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum wafat.
Rasulullah SAW telah jatuh sakit agak lama, sehingga kondisi beliau sangat lemah.
Pada suatu hari Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kmdn, penuhlah Masjid dg para sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendpt taushiyah dr Rasulullah SAW.
Beliau duduk dg lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yg tengah dilderitanya.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Wahai sahabat2 ku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu2nya Tuhan yg layak di sembah?".
Semua sahabat menjawab dg suara bersemangat, " Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kpd kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu2nya Tuhan yg layak disembah."
Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
"Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kpd mereka."
Kemudian Rasulullah bersabda lagi, dan setiap apa yg Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.
Akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yg menjadikan para sahabat sedih dan terharu.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dg manusia. Maka aku ingin bertanya kpd kalian semua. Adakah aku berhutang kpd kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tsb. Karena aku tidak mau bertemu dg Allah dlm keadaan berhutang dg manusia."
Ketika itu semua sahabat diam, dan dlm hati masing2 berkata "Mana ada Rasullullah SAW berhutang dg kita? Kamilah yg banyak berhutang kpd Rasulullah".
Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.
Tiba2 bangun seorang lelaki yg bernama UKASYAH, seorang sahabat mantan preman sblm masuk Islam, dia berkata:
"Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa".
Rasulullah SAW berkata: "Sampaikanlah wahai Ukasyah".
Maka Ukasyah pun mulai bercerita:
"Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tsb tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di
belakang kuda yg engkau tunggangi wahai Rasulullah".
Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata: "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yg sama."
Dengan suara yg agak tinggi, Ukasyah berkata: "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."
Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian.
Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pd Ukasyah. "Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. bukankah Baginda sedang sakit..!?"
Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah.
Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"
Bilal menjawab dg nada sedih: "Cambuk ini akan digunakan Ukasyah utk memukul Rasulullah"
Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata:
"Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sdg sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya".
Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua".
Bilal membawa cambuk tsb ke Masjid lalu diberikan kpd Ukasyah.
Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah.
Tiba2 Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil
berkata: "Ykasyah..! kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yg pertama beriman dg apa yg Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabtnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku".
Rasulullah SAW: "Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dg Ukasyah".
Ukasyah menuju kehadapan Rasulullah. Kemudian Umar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata:
"Ukasyah..! kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yg boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku..!."
Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
"Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dg Ukasyah".
Ukasyah menuju kehadapan Rasulullah, tiba2 berdiri Ali bin Abu Talib sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW.
Dia menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah, pukullah aku saja. Darah yg sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah".
Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
"Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dg Ukasyah" .
Ukasyah semakin dekat dg Rasulullah. Tiba2 tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen.
Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon. "Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami saja wahai Paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah, dg memukul kami sesungguhnya itu sama dg menyakIiti kakek kami, wahai Paman."
Lalu Rasulullah SAW berkata: "Wahai cucu2 kesayanganku duduklah kalian. Ini urusan Kakek dg Paman Ukasyah".
Begitu sampai di tangga mimbar, dg lantang Ukasyah berkata:
"Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini."
Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta bbrp sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi:
"Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah"
Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah.
Tanpa berlama2 dlm keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yg sangat indah, sedang bbrp batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.
Kemudian Rasulullah SAW berkata:
"Wahai Ukasyah, segeralah dan janganlah kamu berlebih2an. Nanti Allah akan murka padamu."
Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, cambuk di tangannya ia buang jauh2, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya. Sambil menangis sejadi2nya,
Ukasyah berkata:
"Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku
melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dg tubuhmu.
Seumur hidupku aku bercita2 dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka.
Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah..."
Rasulullah SAW dg senyum berkata:
"Wahai sahabat2ku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah..!"
Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat
bergantian memeluk Rasulullah SAW.
Semoga dengan membaca ini bila ada air mata ini membuktikan kecintaan kita kepada kekasih Allah SWT....
Allahumma sholli 'alaa Muhammad.
Allahumma sholli 'alayhi wassalam ...
Semoga Allah Swt. Sll meridloi kita semua, Amin
.....
TAULADAN MUSLIM
Rabu, 08 Maret 2017
Minggu, 05 Maret 2017
Cerita Inspirasi dari Seorang Penjual Cilok Asal Kebumen, Jateng
''Hebat.. Ada Bakul Cilok Berpenghasilan Manager''
ALIAN - Rubiyono (55) dan istrinya Siti Suriah (48), bukanlah seorang bos, bukan pula seorang juragan besar. Mereka adalah penjual Cilok. Namun penghasilan mereka tak boleh dianggap remeh. Dan ‘karir’ sebagai pedagang kuliner kecil ternyata menuai kesuksesan yang memberikan kebahagian dalam kehidupan mereka. Namun hal itu tidak didapat semudah membalik telapak tangan. Lantas bagaimana kisahnya??
"Hidup selalu banyak tantangan," ucap Rubiyono mengawali perjumpaan dengan mediaobsesi.com di Rumah Tinggalnya di Penajung, Bojongsari, Kec. Alian Kab. Kebumen (23/01) lalu. Ia lanjut menceritakan kisah hidup bersama Istrinya Siti Suriah
Pada 1987, Rubiyono dan Siti Suriah mengawali kebersamaan mereka dengan Tinggal dan bekerja di Jakarta, sebagai Teknisi listrik, rekanan PLN, namun setelah mengalami krisis, ia mencoba menyambung hidup dengan bejualan kaki lima, apapun sudah mereka lakoni. Dari semangkuk mie rebus hingga berporsi-porsi nasi goreng pernah mereka jual.
Tak hanya sebatas itu perjuangan mereka, liku-liku hidup terus saja menghantui, seakan tak bosan mengganggu. Lagi-lagi cobaan menghampiri keduanya, dengan banyaknya persaingan dagang serta kejamnya metropolitan, pada tahun 2000 mereka pun memutuskan untuk berpulang ke kampung halaman, tepatnya di kebumen.
"yah...kepripun malih..enak mboten enak, luwih kepenak urip nang daerah" ucap rubiyono.
Dengan 4 orang anak yang tergolong masih kecil-kecil, beban hidup sangat terasa dengan adanya kondisi yang demikian kejam, namun tekad berjuang dikampung sudah bulat, dan tidak sedikitpun menggoyahkan keputusan mereka, walau dalam
Angan-angan masih tersirat pertanyaan "apa sing arep tek kerjani ya?"
Setelah pindah ke kebumen, Rubiyono beserta istri terpaksa harus nunut dirumah mertua, karena memang belum ada tanah pribadi untuk mereka tinggali, dengan segera mereka juga mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah baru, anak pertama dan kedua dibangku SMP, yang ke tiga masih dibangku SD, serta si bungsu yang masih TK.
Disini terlihat bahwa, betapa pentingnya Pendidikan bagi keduanya, bahkan tanpa isi dikantongpun mereka tanamkan dalam hati bahwa "Harus sanggup membiayai anak sekolah hingga minimal SMA".
Rubiyono yang memiliki segudang kreatifitas, tak kurang akal, ia pun beraksi dengan seng dan kawatnya hingga diciptakannya kompor-kompor bersumbu yang kemudian ia pasarkan. Namun siapa sangka? Ternyata laris manis, pesananpun kian berantrian.
Rejeki memanglah hanya sebatas waktu, dengan adanya ketetapan berkompor gas dari negara, nyali rubiyono pun sedikit menciut, karna boleh dikata, musibah kebangkrutan akan segera menghampirinya.
Dan sebagai istri yang berhasrat ingin sedikit meringankan beban suaminya, Suriah (sang istri) menjajal beradu nasib dengan berjualan brambang/bawang merah, namun akhirnya berujung gagal, di lanjut lagi berjualan mainan anak, namun kembali gagal.
Tak sedikitpun asa yang putus dari benaknya. Diwarisi keturunan penjual bakso, keduanya mencoba untuk meramu resep bakso menjadi Cilok "bakso tanpa kuah", berawal dari bertanya-tanya tempat penggilingan daging, hingga meminjam modal dari BKK senilai 300.000, mereka memberanikan diri membuka lapak berjualan cilok di pasar seruni tepatnya di kecamatan alian.
Sapa nyana? Cilok yang pada umumnya digemari oleh anak kecil namun kali ini cilok ibu suriah peminatnya tak lain adalah orang dewasa, bahkan mereka berbondong-bondong dari daerah pegunungan, hanya untuk menikmati seplastik cilok.
Siti Suriah sedang melayani pembeli di lapak kecilnya
Diakui si penjual, bahwa langganannya tak jarang datang dari daerah yang jauh, seperti halnya poncowarno, plumbon, bahkan kutowinangun (red-nama kecamatan di Kebumen). Hal ini sangat menakjubkan, sampai-sampai banyak pedagang lain yang syirik dan beranggapan si penjual cilok pakai dukun."hehehe...dukune ya awake dewek" , dengan santai rubiyono menanggapi celaan tersebut.
Hal ini tak membuat pelangganya kabur karena memang terbukti dari keaslian dan rasa cilok yang khas dan kenyal. Hanya "Joss, Mantap!" yang tersimpan dilidah. Karena mediaobsesi.com sudah membuktikannya.
Beralih pada proses pembuatanya, Cilok Bu Suriah ini tidak membutuhkan kerumitan dan waktu yang terlalu lama, sekitar 3 jam setelah proses penggilingan cilok sudah siap dipasarkan. Mudah bukan? Selain itu, yang lebih menarik "5kg" menjadi target ludes habis terjual setiap harinya, terlebih waktu bulan ramadhan datang. Bahan baku yang tak kurang dari "7kg" pasti habis dalam waktu 3 jam "amazzing".
Hehee...yang tak kalah uniknya...cilok ini sudah sampai ke jakarta, lampung bahkan malaysia...karena waktu lebaran tiba, pemudik yang datang dari berbagai penjuru memesan cilok ini untuk dibawa ke tempat kerjanya.
Tak kalah pentingnya, disini mediaobsesi akan menunjukan sedikit banyak tentang hasil yang dicapai dengan jerih payah berjualan cilok."bukan pamer atau sekedar omong kosong" namun pesan motivasilah yang dapat kita serap.
Ternyata dengan bola-bola ciloknya rubiyono dan suriyah mampu menyelesaikan sekolah keempat anaknya dengan rata-rata lulusan SMA, bahkan anak sulungnya juga mencicipi bangku kuliah dibidang keperawatan.
Tak hanya itu, rumah pun yang semula bertembokan kayu dan seng kali ini di sulap menjadi rumah minimalis yang berlantaikan keramik serta berkendaraan 3 sepeda motor.
Nah, .. bagi pembaca yang budiman, petiklah makna dan arti dari sebuah kisah realita hidup seseorang ambil hikmahnya dan serap motivasinya, terus berkarya dan jangan lupa "pantang menyerah". (Sumber: mediaobsesi.com/Sc)
ALIAN - Rubiyono (55) dan istrinya Siti Suriah (48), bukanlah seorang bos, bukan pula seorang juragan besar. Mereka adalah penjual Cilok. Namun penghasilan mereka tak boleh dianggap remeh. Dan ‘karir’ sebagai pedagang kuliner kecil ternyata menuai kesuksesan yang memberikan kebahagian dalam kehidupan mereka. Namun hal itu tidak didapat semudah membalik telapak tangan. Lantas bagaimana kisahnya??
"Hidup selalu banyak tantangan," ucap Rubiyono mengawali perjumpaan dengan mediaobsesi.com di Rumah Tinggalnya di Penajung, Bojongsari, Kec. Alian Kab. Kebumen (23/01) lalu. Ia lanjut menceritakan kisah hidup bersama Istrinya Siti Suriah
Pada 1987, Rubiyono dan Siti Suriah mengawali kebersamaan mereka dengan Tinggal dan bekerja di Jakarta, sebagai Teknisi listrik, rekanan PLN, namun setelah mengalami krisis, ia mencoba menyambung hidup dengan bejualan kaki lima, apapun sudah mereka lakoni. Dari semangkuk mie rebus hingga berporsi-porsi nasi goreng pernah mereka jual.
Tak hanya sebatas itu perjuangan mereka, liku-liku hidup terus saja menghantui, seakan tak bosan mengganggu. Lagi-lagi cobaan menghampiri keduanya, dengan banyaknya persaingan dagang serta kejamnya metropolitan, pada tahun 2000 mereka pun memutuskan untuk berpulang ke kampung halaman, tepatnya di kebumen.
"yah...kepripun malih..enak mboten enak, luwih kepenak urip nang daerah" ucap rubiyono.
Dengan 4 orang anak yang tergolong masih kecil-kecil, beban hidup sangat terasa dengan adanya kondisi yang demikian kejam, namun tekad berjuang dikampung sudah bulat, dan tidak sedikitpun menggoyahkan keputusan mereka, walau dalam
Angan-angan masih tersirat pertanyaan "apa sing arep tek kerjani ya?"
Setelah pindah ke kebumen, Rubiyono beserta istri terpaksa harus nunut dirumah mertua, karena memang belum ada tanah pribadi untuk mereka tinggali, dengan segera mereka juga mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah baru, anak pertama dan kedua dibangku SMP, yang ke tiga masih dibangku SD, serta si bungsu yang masih TK.
Disini terlihat bahwa, betapa pentingnya Pendidikan bagi keduanya, bahkan tanpa isi dikantongpun mereka tanamkan dalam hati bahwa "Harus sanggup membiayai anak sekolah hingga minimal SMA".
Rubiyono yang memiliki segudang kreatifitas, tak kurang akal, ia pun beraksi dengan seng dan kawatnya hingga diciptakannya kompor-kompor bersumbu yang kemudian ia pasarkan. Namun siapa sangka? Ternyata laris manis, pesananpun kian berantrian.
Rejeki memanglah hanya sebatas waktu, dengan adanya ketetapan berkompor gas dari negara, nyali rubiyono pun sedikit menciut, karna boleh dikata, musibah kebangkrutan akan segera menghampirinya.
Dan sebagai istri yang berhasrat ingin sedikit meringankan beban suaminya, Suriah (sang istri) menjajal beradu nasib dengan berjualan brambang/bawang merah, namun akhirnya berujung gagal, di lanjut lagi berjualan mainan anak, namun kembali gagal.
Tak sedikitpun asa yang putus dari benaknya. Diwarisi keturunan penjual bakso, keduanya mencoba untuk meramu resep bakso menjadi Cilok "bakso tanpa kuah", berawal dari bertanya-tanya tempat penggilingan daging, hingga meminjam modal dari BKK senilai 300.000, mereka memberanikan diri membuka lapak berjualan cilok di pasar seruni tepatnya di kecamatan alian.
Sapa nyana? Cilok yang pada umumnya digemari oleh anak kecil namun kali ini cilok ibu suriah peminatnya tak lain adalah orang dewasa, bahkan mereka berbondong-bondong dari daerah pegunungan, hanya untuk menikmati seplastik cilok.
Siti Suriah sedang melayani pembeli di lapak kecilnya
Diakui si penjual, bahwa langganannya tak jarang datang dari daerah yang jauh, seperti halnya poncowarno, plumbon, bahkan kutowinangun (red-nama kecamatan di Kebumen). Hal ini sangat menakjubkan, sampai-sampai banyak pedagang lain yang syirik dan beranggapan si penjual cilok pakai dukun."hehehe...dukune ya awake dewek" , dengan santai rubiyono menanggapi celaan tersebut.
Hal ini tak membuat pelangganya kabur karena memang terbukti dari keaslian dan rasa cilok yang khas dan kenyal. Hanya "Joss, Mantap!" yang tersimpan dilidah. Karena mediaobsesi.com sudah membuktikannya.
Beralih pada proses pembuatanya, Cilok Bu Suriah ini tidak membutuhkan kerumitan dan waktu yang terlalu lama, sekitar 3 jam setelah proses penggilingan cilok sudah siap dipasarkan. Mudah bukan? Selain itu, yang lebih menarik "5kg" menjadi target ludes habis terjual setiap harinya, terlebih waktu bulan ramadhan datang. Bahan baku yang tak kurang dari "7kg" pasti habis dalam waktu 3 jam "amazzing".
Hehee...yang tak kalah uniknya...cilok ini sudah sampai ke jakarta, lampung bahkan malaysia...karena waktu lebaran tiba, pemudik yang datang dari berbagai penjuru memesan cilok ini untuk dibawa ke tempat kerjanya.
Tak kalah pentingnya, disini mediaobsesi akan menunjukan sedikit banyak tentang hasil yang dicapai dengan jerih payah berjualan cilok."bukan pamer atau sekedar omong kosong" namun pesan motivasilah yang dapat kita serap.
Ternyata dengan bola-bola ciloknya rubiyono dan suriyah mampu menyelesaikan sekolah keempat anaknya dengan rata-rata lulusan SMA, bahkan anak sulungnya juga mencicipi bangku kuliah dibidang keperawatan.
Tak hanya itu, rumah pun yang semula bertembokan kayu dan seng kali ini di sulap menjadi rumah minimalis yang berlantaikan keramik serta berkendaraan 3 sepeda motor.
Nah, .. bagi pembaca yang budiman, petiklah makna dan arti dari sebuah kisah realita hidup seseorang ambil hikmahnya dan serap motivasinya, terus berkarya dan jangan lupa "pantang menyerah". (Sumber: mediaobsesi.com/Sc)
Kamis, 02 Maret 2017
Kisah Tauladan: Dokter Berhati Murah dari Bandung
*KISAH NYATA yang inspiratif di Bandung* ,
_*Kisah SEORANG DOKTER*_
Sejak pulang dari itikaf di masjid selama tiga hari bersama jamaah dakwah, dokter Agus menjadi pribadi yang berbeda. Sedikit-sedikit bicaranya Allah, sedikit-sedikit bicaranya Rasulullah.
Cara makan dan cara tidurnya pun berbeda, katanya itulah cara tidur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Rupanya, pengalaman itikaf dan belajar di masjid betul-betul berkesan baginya. Ada semangat baru.
Namun beliau juga jadi lebih banyak merenung. Dia selalu teringat-ingat dengan kalimat yang dibicarakan amir jamaah.
“Obat tidak dapat menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah.
Obat bisa menyembuhkan berhajat kepada Allah, karena sunnatullah.
Sedang Allah menyembuhkan, tidak berhajat melalui obat.
Allah bisa menyembuhkan dengan obat atau bahkan tanpa obat.
Yang menyembuhkan bukanlah obat, yang menyembuhkan adalah Allah.”
Dia-pun merenung, bukan hanya obat, bahkan dokter pun tidak punya upaya untuk memberi kesembuhan. Yang memberi kesembuhan adalah Allah.
Sejak itu, sebelum memeriksa pasiennya, ia selalu bertanya.
“Bapak sebelum kesini sudah izin dulu kepada Allah?” atau “Sudah berdoa meminta kesembuhan kepada Allah?” atau “Sudah lapor dulu kepada Allah?"
Jika dijawab belum (kebanyakan memang belum), beliau meminta pasien tersebut mengambil air wudhu, dan shalat dua rakaat di tempat yang telah disediakan
Jika memberikan obat, beliau pun berpesan dengan kalimat yang sama. “Obat tidak bisa menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah. Namun berobat adalah sunnah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan sebagai ikhtiar dan sunnatullah, agar Allah mau menyembuhkan”.
Ajaib! banyak pasien yang sembuh.
Jika diperiksa dengan ilmu medis, peluang sehatnya hampir tidak ada, ketika diberikan terapi “Yakin” yang diberikan beliau, menjadi sehat.
Pernah ada pasien yang mengeluh sakit, beliau minta agar orang tsb untuk shalat dua rakaat (minta ampun dan minta kesembuhan kepada Allah), ketika selesai shalat pasien tersebut langsung merasa sehat dan tidak jadi berobat.
Rudi, Asistennya bertanya, kenapa dia langsung sembuh?
Dr. Agus katakan, bisa jadi sumber sakitnya ada di hati, hati yang gersang karena jauh dari Allah.
Efek lain adalah pasiennya pulang dalam keadaan senang dan gembira. Karena tidak hanya fisiknya yang diobati, namun batinnya pun terobati.
Hati yang sehat, membuat fisik yang kuat. Dan sebaik-baik obat hati adalah Dzikir, Al-Quran, Wudhu, Shalat, Do'a dan tawakal pada Allah.
Pernah ada pasien yang jantungnya bermasalah dan harus dioperasi.
Selain “Yakin”, beliau juga mengajarkan terapi cara hidup Rasulullah. Pasien tersebut diminta mengamalkan satu sunnah saja, yaitu sunnah tidur. Sebelum tidur berwudhu, kalau bisa shalat dua rakaat, berdoa, berdzkir, menutup aurat, posisi kanan adalah kiblat, dan tubuh miring ke kanan.
Seminggu kemudian, pasien tersebut diperiksa. Alhamdulillah, tidak perlu dilakukan operasi. Allah telah memberi kesembuhan atasnya.
Ada juga pasien yang ginjalnya bermasalah. Beliau minta agar pasien tersebut mengamalkan sunnah makan dan sunnah di dalam WC. Makan dengan duduk sunnah sehingga posisi tubuh otomatis membagi perut menjadi 3 (udara, makanan, dan air). Kemudian buang air kecil dengan cara duduk sunnah, menguras habis-habis kencing yang tersisa dengan berdehem 3 kali, mengurut, dan membasuhnya dengan bersih.
Seminggu kemudian, saat diperiksa ternyata Allah berikan kesembuhan kepada orang tersebut.
Rudi pernah sedikit protes. Sejak melibatkan Allah, pasiennya jadi jarang bolak-balik dan berisiko mengurangi pendapatan beliau.
Namun Dr. Agus katakan bahwa rezeki adalah urusan Allah. Dan beliau jawab dengan kalimat yang sama dengan redaksi yang berbeda, bahwa “Sakitnya pasien tidak dapat mendatangkan rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah. Allah juga bisa mendatangkan rezeki tanpa melalui sakitnya pasien”.
Enam bulan berikutnya seorang pasien yang pernah sembuh karena diminta shalat oleh beliau, datang ke klinik, mengucapkan terima kasih, dan berniat mengajak dokter serta asistennya umroh bulan depan.
Dr. Agus kemudian memanggil Rudi ke dalam ruangan. Sebenarnya beliau tahu bahwa Rudi ingin: sekali berangkat umrah. Namun kali ini beliau ingin bertanya langsung dengannya.
“Rudi, bapak ini mengajak kita untuk umrah bulan depan, kamu bersedia?”
Rudi tidak menjawab, namun matanya berbinar, air matanya tampak mau jatuh.
“Sebelum menjawab, saya izin shalat dulu pak,” ucapnya lirih. Ia shalat lama sekali, sepertinya ini shalat dia yang paling khusyu'.
Pelan, terdengar dia terisak-isak menangis dalam doanya.
------
Demikian mudah-mudahan kisah yang di bagikan
membawa banyak manfaat..
Tulisan oleh: Dr Agus Thosin, SpJP praktek di RSAI Bandung.
_*Kisah SEORANG DOKTER*_
Sejak pulang dari itikaf di masjid selama tiga hari bersama jamaah dakwah, dokter Agus menjadi pribadi yang berbeda. Sedikit-sedikit bicaranya Allah, sedikit-sedikit bicaranya Rasulullah.
Cara makan dan cara tidurnya pun berbeda, katanya itulah cara tidur Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Rupanya, pengalaman itikaf dan belajar di masjid betul-betul berkesan baginya. Ada semangat baru.
Namun beliau juga jadi lebih banyak merenung. Dia selalu teringat-ingat dengan kalimat yang dibicarakan amir jamaah.
“Obat tidak dapat menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah.
Obat bisa menyembuhkan berhajat kepada Allah, karena sunnatullah.
Sedang Allah menyembuhkan, tidak berhajat melalui obat.
Allah bisa menyembuhkan dengan obat atau bahkan tanpa obat.
Yang menyembuhkan bukanlah obat, yang menyembuhkan adalah Allah.”
Dia-pun merenung, bukan hanya obat, bahkan dokter pun tidak punya upaya untuk memberi kesembuhan. Yang memberi kesembuhan adalah Allah.
Sejak itu, sebelum memeriksa pasiennya, ia selalu bertanya.
“Bapak sebelum kesini sudah izin dulu kepada Allah?” atau “Sudah berdoa meminta kesembuhan kepada Allah?” atau “Sudah lapor dulu kepada Allah?"
Jika dijawab belum (kebanyakan memang belum), beliau meminta pasien tersebut mengambil air wudhu, dan shalat dua rakaat di tempat yang telah disediakan
Jika memberikan obat, beliau pun berpesan dengan kalimat yang sama. “Obat tidak bisa menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah. Namun berobat adalah sunnah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan sebagai ikhtiar dan sunnatullah, agar Allah mau menyembuhkan”.
Ajaib! banyak pasien yang sembuh.
Jika diperiksa dengan ilmu medis, peluang sehatnya hampir tidak ada, ketika diberikan terapi “Yakin” yang diberikan beliau, menjadi sehat.
Pernah ada pasien yang mengeluh sakit, beliau minta agar orang tsb untuk shalat dua rakaat (minta ampun dan minta kesembuhan kepada Allah), ketika selesai shalat pasien tersebut langsung merasa sehat dan tidak jadi berobat.
Rudi, Asistennya bertanya, kenapa dia langsung sembuh?
Dr. Agus katakan, bisa jadi sumber sakitnya ada di hati, hati yang gersang karena jauh dari Allah.
Efek lain adalah pasiennya pulang dalam keadaan senang dan gembira. Karena tidak hanya fisiknya yang diobati, namun batinnya pun terobati.
Hati yang sehat, membuat fisik yang kuat. Dan sebaik-baik obat hati adalah Dzikir, Al-Quran, Wudhu, Shalat, Do'a dan tawakal pada Allah.
Pernah ada pasien yang jantungnya bermasalah dan harus dioperasi.
Selain “Yakin”, beliau juga mengajarkan terapi cara hidup Rasulullah. Pasien tersebut diminta mengamalkan satu sunnah saja, yaitu sunnah tidur. Sebelum tidur berwudhu, kalau bisa shalat dua rakaat, berdoa, berdzkir, menutup aurat, posisi kanan adalah kiblat, dan tubuh miring ke kanan.
Seminggu kemudian, pasien tersebut diperiksa. Alhamdulillah, tidak perlu dilakukan operasi. Allah telah memberi kesembuhan atasnya.
Ada juga pasien yang ginjalnya bermasalah. Beliau minta agar pasien tersebut mengamalkan sunnah makan dan sunnah di dalam WC. Makan dengan duduk sunnah sehingga posisi tubuh otomatis membagi perut menjadi 3 (udara, makanan, dan air). Kemudian buang air kecil dengan cara duduk sunnah, menguras habis-habis kencing yang tersisa dengan berdehem 3 kali, mengurut, dan membasuhnya dengan bersih.
Seminggu kemudian, saat diperiksa ternyata Allah berikan kesembuhan kepada orang tersebut.
Rudi pernah sedikit protes. Sejak melibatkan Allah, pasiennya jadi jarang bolak-balik dan berisiko mengurangi pendapatan beliau.
Namun Dr. Agus katakan bahwa rezeki adalah urusan Allah. Dan beliau jawab dengan kalimat yang sama dengan redaksi yang berbeda, bahwa “Sakitnya pasien tidak dapat mendatangkan rezeki, yang memberi rezeki adalah Allah. Allah juga bisa mendatangkan rezeki tanpa melalui sakitnya pasien”.
Enam bulan berikutnya seorang pasien yang pernah sembuh karena diminta shalat oleh beliau, datang ke klinik, mengucapkan terima kasih, dan berniat mengajak dokter serta asistennya umroh bulan depan.
Dr. Agus kemudian memanggil Rudi ke dalam ruangan. Sebenarnya beliau tahu bahwa Rudi ingin: sekali berangkat umrah. Namun kali ini beliau ingin bertanya langsung dengannya.
“Rudi, bapak ini mengajak kita untuk umrah bulan depan, kamu bersedia?”
Rudi tidak menjawab, namun matanya berbinar, air matanya tampak mau jatuh.
“Sebelum menjawab, saya izin shalat dulu pak,” ucapnya lirih. Ia shalat lama sekali, sepertinya ini shalat dia yang paling khusyu'.
Pelan, terdengar dia terisak-isak menangis dalam doanya.
------
Demikian mudah-mudahan kisah yang di bagikan
membawa banyak manfaat..
Tulisan oleh: Dr Agus Thosin, SpJP praktek di RSAI Bandung.
Langganan:
Postingan (Atom)